BELAWAN | mitrapolri.net - Gegara Rubber Tyred Gantry (RTG) Crane atau Alat Angkat berat untuk memindahkan dan menumpuk Peti Kemas di pelabuhan tak kunjung di perbaiki tabrakan antar truck tak terindarkan, dikarena alat RTG yang kurang jadi para supir truck saling berebut untuk bisa cepat di layani karena borongan atau upah yang kecil dan tidak memadahi gak mungkin para supir truk tersebut harus menunggu berjam-jam.
Hal ini menjadi pertanyaan bagi masyarakat, sebab diketehui bahwa dana perawatan untuk alat RTG tersebut ada dan cukup besar, namun kenapa bisa alat RTG yang diperuntukan Pelabuhan Internasional, selalu rusak bahkan hampir setiap hari. Dijemanakan Dana Perawatan Alat RTG tersebut ?.
Saling berebut muatan dan RTG yang tidak berfungsi dengan maksimal, akhir nya tabrakan sesama truck pun terjadi, di Pelabuhan TPK B eks BICT tepatnya di depan Batu Prasasti Tanda Peresmian Pelabuhan yang di tanda tangani Presiden Soeharto, Selasa (26/8/2025) sekira pukul 00 : 10 Wib.
Para supir sangat menyayangkan, tidak adanya penanganan dari PT. Pelindo, truck yang mengalami kecelakaan tersebut dibiarkan begitu saja tanpa adanya bantuan untuk mengevakuasi truck tersebut, padahal posisi bermuatan yang akan di letakkan di Container Yard (CY) yang tidak jauh dari posisi tabrakan.
PT. Pelindo seakan menyandera truck yang mengalami kecelakaan tersebut, padahal kondisi Container tidak ada kendala hanya Cabin truck yang hancur, seharusnya kan muatan Containernya dapat diangkatkan, di bantu dengan temannya untuk di tarik truck keluar agar bisa ke gudang atau ke pangkalannya. Sebab truck tidak ada menabrak alat atau barang milik PT. Pelindo,mengapa seolah truck tersebut harus di sandera sampai pagi.
Dapat dibayangkan gimna tersiksanya supir, dengan upah atau borongan yang kecil harus tidur di tengah Pelabuhan, entah ada makanan atau minumannya pun tidak ata yang tahu dan PT. Pelindo pun tidak mau tahu samasekali. (Zul/mp.net)
Komentar
Posting Komentar